• Kamis, 7 Juli 2022

Bupati Garut Tanggapi Wacana Penghapusan Tenaga Honorer

- Kamis, 23 Juni 2022 | 15:57 WIB
Bupati saat acara Rapat Paripurna DPRD Garut terkait penghapusan tenaga Honorer.
Bupati saat acara Rapat Paripurna DPRD Garut terkait penghapusan tenaga Honorer.


Insiden24.com - Berkaitan dengan wacana penghapusan tenaga honorer pada tahun 2023, Bupati Garut, Rudy Gunawan, menyatakan,  saat ini pihaknya sedang melakukan verifikasi dan validasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Verifikasi dan validasi Data tersebut khususnya berkaitan dengan tahun masuk tenaga pengajar honorer ke sistem Dapodik.

Bupati Garut menanggapi wacana penghapusan tenaga honorer dengan serius.

Baca Juga: Bupati Garut : Pohon Samida akan dijadikan sebagai ikon Kabupaten Garut

Di hadapan pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Garut pada Rapat Paripurna  DPRD Masa Sidang II Tahun 2022 Bupati mengatakan, ada ketidakadilan seseorang yang masuk Dapodik.

"Ternyata ada ketidakadilan misalnya seseorang yang masuk Dapodiknya tahun 2007, kemarin yang kepilih PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja)nya yang masuk Dapodik 2016," kata Bupati di Ruang Rapat Paripurna DPRD Garut.

"nah kami mau melakukan langkah-langkah dan kami sangat sependapat dengan komisi satu, yang sudah mengadakan beberapa kali dengar pendapat dengan dinas kami, dan kami dari berbagai fraksi sekarang bahwa masalah itu akan kita tuntaskan," ujarnya, Rabu (22/6/2022).

Rapat Paripurna DPRD ini dalam Rangka Pembahasan Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran Tahun 2021 dengan agenda Jawaban Bupati.

Baca Juga: Kapolda Jabar Bersama Forkopimda Garut Tebar 7,6 Juta Benih Ikan Air Tawar di Situ Bagendit

Bupati mengatakan, pihaknya telah melakukan penghitungan dengan dinas terkait, bilamana kebijakan penghapusan tenaga honorer dilakukan, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut mengalihkan tenaga honorer ke PPPK, maka Pemkab Garut harus menyiapkan pengeluaran kurang lebih 300 miliar rupiah.

"Sedangkan kemarin bapak-ibu  kami rapat kerja para bupati dengan menteri keuangan, kelihatannya tidak akan ada penambahan (anggaran)," ujarnya.

Merujuk PP 48 Tahun 2005 yang tidak boleh lagi ada honorer, maka pihaknya harus siap untuk membuat kebijakan anggaran.

Oleh karena itu, sebelum mengajukan Kebijakan Umum Anggaran Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUAPPAS), pihaknya ingin bertemu terlebih dahulu dengan pimpinan fraksi.

Baca Juga: Hingga Hari ini, Tim PPS Sudah Temukan 29 ribu Anak Stunting di Kabupaten Garut

"Apa yang akan dibuat kebijakan anggarannya, apakah 3.300 (honorer) ditambah yang (honorer) Satpol PP dan yang ini (lain-lain), ini kan harus dibuat dalam bentuk komitmen dulu, sebelum kita mengajukan KUAPPAS, karena ini berpengaruh besar hampir dengan 300 miliar rupiah, sehingga kemampuan fiskal kita untuk membangun sangatlah tidak memungkinkan," lanjutnya.

Ia menilai, bahwa wacana terkait penghapusan tenaga honorer ini harus mendapatkan perhatian yang sangat serius.

"Tapi kalau itu tidak dilakukan kami pun sudah di warning kementerian dalam negeri, bahwa Permendagri tentang pedoman penyusunan APBD tidak memperbolehkan lagi daerah menganggarkan selain daripada PPPK dan ASN, jadi ini harus mendapatkan perhatian yang sangat serius, karena apapun dan bagaimanapun jumlahnya ini sangat signifikan," tandasnya.***

Editor: Anugrah A

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Polri di Usia 76 Tahun Bekerja Lebih Baik

Kamis, 7 Juli 2022 | 06:15 WIB

Patroli di Pasar Hewan Ternak

Rabu, 6 Juli 2022 | 22:22 WIB

Talk Show Satuan Binmas Melalui Siaran Radio

Selasa, 5 Juli 2022 | 23:21 WIB
X